Diabetes Melitus Mengancam Malaysia Satu dari Enam Warga Mengidapnya

Smallest Font
Largest Font

Penyakit tidak menular seperti diabetes melitus tengah menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang serius di kawasan Asia Tenggara. Kabar mengenai lonjakan kasus kronis ini salah satunya datang dari negara tetangga, Malaysia.

Tren penyakit yang dipicu oleh pola hidup tersebut dilaporkan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Data klinis nasional yang dipaparkan menunjukkan statistik terbaru mengenai kondisi kesehatan masyarakat di sana.

Direktur Departemen Kesehatan Negara Bagian Sarawak Malaysia, Dr Veronica Lugah, mengungkapkan bahwa saat ini 1 dari 6 warga Malaysia resmi didiagnosis mengidap diabetes, dikutip dari Detik Health.

Kondisi ini kian memprihatinkan seiring dengan meningkatnya ancaman penyakit kardiovaskular lain di tengah masyarakat secara tajam.

"Di tingkat nasional, data menunjukkan banyak warga yang terkena penyakit tidak menular. Tekanan darah tinggi memengaruhi 1 dari 3 orang, sementara kolesterol tinggi juga menyerang 1 dari 3 warga di sini," papar Dr Veronica, dikutip dari Malay Mail.

Ledakan kasus diabetes dan hipertensi di Malaysia dianalisis berakar dari masalah medis utama, yaitu tingginya angka obesitas. Hal ini berkaitan erat dengan fenomena malas bergerak yang meluas di masyarakat.

Berdasarkan data yang ada, 1 dari 2 warga Malaysia saat ini masuk dalam kategori berat badan berlebih. Lebih spesifik, sebanyak 54,4 persen penduduk setempat kini diklasifikasikan sebagai pengidap obesitas.

"Faktanya, sekitar 1 dari 2 orang sama sekali tidak rutin berolahraga atau melakukan bentuk latihan fisik lainnya. Mereka benar-benar tidak menjalani gaya hidup aktif," tambah Dr Veronica.

Kombinasi antara kegemukan dan kurangnya aktivitas fisik secara medis menjadi pemicu utama terjadinya resistensi insulin pada tubuh. Kondisi tersebut menjadi faktor pembuka rusaknya metabolisme yang kemudian memicu diabetes stadium awal.

Otoritas kesehatan setempat juga mencatat bahwa ancaman penyakit diabetes maupun hipertensi kini cenderung menyerang usia produktif. Guna mengatasinya, sejumlah langkah mulai dijalankan termasuk kampanye gaya hidup sehat serta intervensi fisik secara intensif.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Putri Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow