Evaluasi Setahun Program Makan Bergizi Gratis dan Distribusi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini sudah berjalan lebih dari setahun. Salah satu tujuan dari Proyek Strategis Nasional (PSN) Presiden Prabowo Subianto tersebut adalah menekan angka stunting di beberapa wilayah yang masih tinggi.
Di sisi lain, banyak pihak menyoroti terkait distribusi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang disebut justru lebih banyak dibangun di lokasi yang prevalensi stuntingnya rendah, alih-alih difokuskan ke wilayah dengan stunting tinggi.
Angka Stunting Dilaporkan Naik di Sanggau
Sebelumnya, Wakil Bupati Sanggau Susana Herpena menekankan belum ada dampak signifikan terhadap penurunan angka stunting dari program MBG di daerahnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sanggau, prevalensi stunting pada triwulan I 2026 justru naik dibanding tahun sebelumnya.
Data Dinkes Sanggau mencatat angka stunting pada 2024 berada di level 21,48 persen. Angka tersebut sempat turun menjadi 20,50 persen pada 2025. Namun pada triwulan I 2026, prevalensi stunting kembali naik menjadi 21,82 persen atau meningkat 1,32 persen dibanding tahun sebelumnya
Menkes Ingin Ubah Fokus Penerima
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, untuk menurunkan angka stunting melalui program MBG ini tidak bisa didapatkan secara instan.
Oleh karena itu, dirinya ingin meminta kepada Badan Gizi Nasionan (BGN) untuk mengubah target prioritas penerima manfaat. Menurutnya, kelompok yang paling menentukan keberhasilan pencegahan stunting adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
"Kalau MBG ini benar-benar jalan sukses ke depan, itu sangat mengurangi beban kesehatan," kata Budi.
Ia mengaku telah meminta Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memberi perhatian lebih besar pada ibu hamil. Menurutnya, kekurangan gizi selama kehamilan menjadi akar berbagai masalah kesehatan yang muncul pada anak setelah lahir.
"Saya bilang ke Bu Nanik, boleh nggak saya fokus ke ibu hamil. Tolong dibantu supaya gizinya bagus," ujarnya.
Pengkajian Ulang MBG Anak Sekolah
Menkes menambahkan bahwa mungkin perlu adanya pengkajian ulang terkait MBG untuk anak-anak sekolah.
Budi menegaskan dirinya bukan tidak setuju dengan pemberian makanan bergizi untuk anak sekolah. Namun, dari perspektif kesehatan, kelompok yang harus menjadi prioritas adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang masih berada pada periode emas pertumbuhan.
"Begitu hamil jangan sampai kurang gizi karena nanti anaknya banyak masalah kesehatan. Kemudian ibu menyusui selama dua tahun gizinya juga harus jalan. Dan balita, justru yang belum masuk sekolah itu golden period bahwa gizinya masih harus terpenuhi," jelasnya.
Karena itu, intervensi gizi pada periode awal kehidupan dinilai jauh lebih menentukan dalam mencegah stunting dibanding ketika anak sudah memasuki usia sekolah.
Meski begitu, pemerintah saat ini masih mengumpulkan data untuk mengukur dampak MBG terhadap status gizi penerima manfaat. Pemantauan tersebut dilakukan oleh Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
"Yang di sekolah sedang dikerjakan Kemendikdasmen dan Kemenkes. Nanti kita bisa lihat perkembangan gizinya seperti apa. Ini akan jadi evidence based apakah programnya sudah benar atau yang kurang masih di sini-sini," pungkasnya.
Dengan kata lain, hingga saat ini pemerintah belum menyampaikan data yang secara langsung menunjukkan penurunan angka stunting akibat program MBG. Evaluasi berbasis bukti masih dilakukan untuk melihat sejauh mana program tersebut berdampak terhadap perbaikan status gizi masyarakat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow