Aktivis 98 Kritik Agenda Reformasi Belum Wujudkan Keadilan Sosial

Smallest Font
Largest Font

Sejumlah Aktivis 98 menilai agenda Reformasi belum sepenuhnya menghadirkan keadilan sosial serta demokrasi yang sehat di Indonesia. Penilaian tersebut disampaikan dalam diskusi publik bertajuk "98 Menggugat, Lanjutkan Reformasi!!!" di Jakarta pada Kamis (18/6/2026), sebagaimana dilansir dari Beritatangsel. Berbagai persoalan pasca-Reformasi menjadi sorotan utama dalam kegiatan tersebut.

Masalah yang dikritisi meliputi kemunduran demokrasi hingga memburuknya kondisi kesejahteraan masyarakat saat ini. Narasumber diskusi, Liko Larson, menyoroti kebijakan pemerintah saat ini yang dinilai lebih banyak membebani kelompok masyarakat bawah. Menurutnya, kelompok yang paling terdampak adalah pekerja perempuan dan ibu rumah tangga akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, ketidakpastian kerja, dan menurunnya perlindungan sosial.

"Rakyat tidak hidup dari program-program yang dikampanyekan pemerintah, tetapi dari kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika anggaran negara lebih banyak diarahkan untuk proyek-proyek yang dipertanyakan efektivitasnya, sementara biaya hidup terus meningkat dan kesejahteraan pekerja terabaikan, maka yang menjadi korban adalah masyarakat kecil, terutama perempuan dan keluarga pekerja," ujar Liko Larson.

Diskusi yang dipandu oleh Ignatius Indro ini juga menghadirkan pembicara dari lintas generasi. Tokoh yang hadir sebagai narasumber antara lain Firman Tendry, Anton Ufur, dan Hengki Soeharto. Dalam kesempatan itu, Hengki Soeharto menggarisbawahi pentingnya masyarakat sipil untuk membangun kekuatan gerakan di ruang digital. Langkah ini dinilai krusial seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat.

"Pertarungan gagasan hari ini tidak hanya berlangsung di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital. Karena itu, gerakan masyarakat sipil harus mampu beradaptasi dan membangun jaringan yang kuat di kedua ruang tersebut," kata Hengki Soeharto. Acara tersebut turut dihadiri oleh sejumlah aktivis Gerakan 1998 lainnya seperti Alex Leonardo, Joshua Napitupulu, Natalia, Togi, Giri, dan Kimung. Elemen masyarakat sipil serta komunitas mahasiswa yang aktif mengawal isu demokrasi, hak asasi manusia, dan keadilan sosial juga ikut serta dalam konsolidasi gerakan ini.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: beritatangsel.com without altering the facts of the original article.
Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Putri Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow