Banyak Orang Baru Menyadari Idap Diabetes Saat Kondisi Sudah Parah
Penyakit diabetes melitus kini menjadi ancaman kesehatan global yang serius. Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa 1 dari 10 warga yang berumur di atas 40 tahun hidup dengan kondisi ini.
Diabetes sering kali dijuluki sebagai mother of diseases atau induk dari segala penyakit. Lonjakan kadar gula darah secara perlahan merusak pembuluh darah serta saraf, sehingga memicu komplikasi mematikan seperti stroke, penyakit jantung, kebutaan, gagal ginjal, hingga amputasi.
Ledakan kasus pada usia produktif juga memicu kekhawatiran besar, seperti yang dilansir dari Detik Health. Fenomena ini turut menjadi perhatian serius di negara tetangga, Malaysia, karena dinilai berpotensi mengganggu produktivitas kerja dan ketahanan ekonomi jangka panjang.
Persoalan krusial ini dibahas dalam Diabetes Conference 2026 di Kuala Lumpur baru-baru ini. Para pakar sepakat bahwa penanganan penyakit ini harus dirombak total dari hulu akibat banyaknya pasien yang terlambat menyadari kondisi mereka.
Data National Health and Morbidity Survey (NHMS) menunjukkan 15,6 persen orang dewasa di Malaysia mengidap diabetes. Sementara itu, 5,9 persen warga lainnya tidak menyadari memiliki kadar glukosa darah yang sangat tinggi karena merasa sehat, di tengah fakta bahwa 54,4 persen populasi dewasa di sana mengalami obesitas.
Spesialis transformasi fisik sekaligus pendiri Badcave Training Facility, Murad Zaidi, mengingatkan bahwa masyarakat kerap keliru memahami lini masa penyakit ini. Mayoritas pasien baru mencari bantuan medis saat komplikasi berat sudah terjadi.
"Orang berpikir diabetes dimulai ketika vonis dokter ditegakkan. Padahal tidak. Diagnosis itu sering kali hanyalah momen ketika masalah tersebut akhirnya terdeteksi setelah sekian lama," kata Murad, dikutip dari The Sun Malaysia.
Menurut Murad, penyakit ini merupakan hasil akhir dari disfungsi metabolisme jangka panjang yang berjalan perlahan. Saat pasien memeriksakan diri ke klinik, tubuh mereka umumnya telah mengalami kerusakan berupa resistensi insulin, obesitas sentral, kelelahan kronis, gangguan tidur, hingga ketergantungan obat-obatan.
Ancaman bagi Pekerja Kantoran
Pola disfungsi metabolisme ini paling subur menyerang kelompok profesional urban dan pelaku usaha di perkotaan. Kelompok ini rentan akibat paparan stres tinggi, kurang tidur, nutrisi buruk, serta gaya hidup yang minim aktivitas fisik.
Murad menegaskan bahwa fluktuasi kadar gula darah yang tidak stabil dapat langsung merusak performa kerja seseorang di berbagai aspek kehidupan.
"Jika gula darah Anda tidak stabil, tidur Anda buruk, energi Anda tidak konsisten, dan komposisi tubuh Anda memburuk," ujar Murad.
"Itu memengaruhi cara Anda berpikir (brain fog), cara Anda memimpin, cara Anda bekerja, hingga cara Anda hadir di rumah," kata Murad.
Tanda Peringatan Dini yang Sering Diabaikan
Beberapa gejala awal yang kerap diabaikan oleh para pekerja kantoran meliputi:
- Penumpukan lemak atau kenaikan berat badan yang berpusat di area perut.
- Munculnya rasa lelah atau kantuk yang luar biasa sesaat setelah makan (food coma).
- Kabut otak (brain fog) atau kesulitan mendadak untuk berkonsentrasi saat berpikir.
- Keinginan kuat untuk terus-menerus makan berlebihan (craving).
- Proses pemulihan fisik yang berjalan sangat lambat saat tubuh mengalami kelelahan.
Murad menekankan bahwa perbaikan kesehatan metabolisme membutuhkan pendekatan holistik yang komprehensif, mulai dari manajemen stres, kualitas tidur, gerakan aktif, hingga nutrisi seimbang, bukan sekadar diet instan.
"Tidak ada dokter, pelatih olahraga, ataupun suplemen mahal yang dapat mengatasi gaya hidup yang merusak tubuh Anda setiap hari," kata Murad.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow