Kisah Pilu Lydia Southam yang Diabaikan Dokter hingga Kanker Ovarium Stadium 4
Seorang wanita berusia 37 tahun asal Stratford, Inggris, berjuang melawan kanker ovarium stadium lanjut setelah pemeriksaan medisnya berulang kali diabaikan. Tim medis awalnya menganggap kondisi fisiknya terlalu sehat dan muda untuk mengidap penyakit mematikan tersebut.
Dilansir dari Detik Health yang mengutip New York Post, wanita bernama Lydia Southam ini sempat mendatangi dokter umum hingga 10 kali. Ia mengeluhkan sejumlah gejala seperti siklus menstruasi yang berat, perut kembung, serta kesulitan buang air kecil.
Kekhawatiran Lydia baru ditanggapi serius dua tahun kemudian setelah seorang dokter menyadari adanya kejanggalan. Ia akhirnya dirujuk ke rumah sakit pada Juni 2023 dan didiagnosis mengidap Low-grade Serious Ovarian and Peritoneal Cancer (LGSOC) stadium 4.
"Saya dengan naif mempercayai mereka. Saya relatif bugar dan sehat. Saya masih pergi ke gym dan melakukan semuanya seperti biasa.
"Sebagai seorang wanita, Anda hanya disuruh mengatasi gejala-gejala ini, Anda harus tabah menghadapinya. Karena dokter umum tidak khawatir, saya pun tidak khawatir," ujarnya.
Perubahan kondisi tubuh mulai disadari Lydia sejak tahun 2021 ketika volume darah menstruasinya menjadi jauh lebih banyak. Rasa sakit tersebut semakin memburuk saat dirinya menjalani masa kehamilan.
Meskipun ditemukan adanya benjolan pada area perut, tim medis saat itu berdalih bahwa kondisi tersebut merupakan efek lumrah dari kehamilan. Gejala lain seperti sering buang air kecil dan perut kembung terus berlanjut setelahnya.
"Saya datang dengan rasa sakit yang hebat dan merasa bayi itu tidak punya ruang. Saya mengatakan rasanya dia tidak punya ruang untuk bergerak.
Setelah itu, saya mengalami gejala seperti sering buang air kecil, nyeri, dan kembung," katanya.
Lydia tidak langsung kembali memeriksakan diri meskipun gejala-gejala itu menetap. Ia baru mengunjungi dokter lagi setelah mendeteksi kemunculan bintik-bintik di perut bagian kanan beberapa bulan kemudian.
"Lalu saya kembali lagi ketika menemukan benjolan yang tampak seperti hernia di perut saya. Mereka hanya mengatakan itu hernia, tidak melakukan pemindaian, dan menjadwalkan operasi untuk saya," tuturnya.
"Lalu saya kembali lagi dan menemukan benjolan di selangkangan saya. Saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Saya tahu ada yang salah dan akhirnya pergi ke sana sekitar 10 kali.
Akhirnya saya kembali ke dokter umum, tetapi kali ini saya bertemu dokter perempuan yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres," lanjutnya.
Ia terus mendesak pemeriksaan mendalam setelah berkali-kali diyakinkan bahwa kanker ovarium tidak mungkin menyerang dirinya. Dokter berdalih penyakit tersebut umumnya hanya diderita oleh wanita lanjut usia.
Pemeriksaan biopsi pada benjolan akhirnya dilakukan setelah Lydia menemui dokter spesifik. Hasil pengujian laboratorium mengonfirmasi adanya kanker ovarium stadium 4B tingkat rendah.
"Sejujurnya, itu mengerikan," katanya.
Penanganan medis skala besar kemudian dijalankan, meliputi histerektomi total serta pengangkatan limpa. Tim bedah juga mengangkat sebagian usus, sebagian pusar, dan sebagian diafragma Lydia.
Pascaoperasi, Lydia diwajibkan menjalani rangkaian sesi kemoterapi hingga tim medis menyatakan dirinya sembuh total. Saat ini, ia aktif mengampanyekan gerakan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai bahaya LGSOC.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow