Remaja Mulai Gunakan Kecerdasan Buatan untuk Konsultasi Kesehatan Mental
Banyak remaja kini mulai beralih memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau AI untuk memperoleh saran terkait kesehatan mental mereka. Kebiasaan baru ini melengkapi kecenderungan umum remaja yang biasanya mencari teman atau orang terdekat untuk mencurahkan isi hati saat menghadapi masalah emosional.
Fenomena tersebut terungkap melalui riset terbaru dari RAND Corporation, sebuah lembaga penelitian asal Amerika Serikat, seperti dikutip dari Wolipop. Studi ini menemukan bahwa hampir satu dari lima remaja serta dewasa muda menggunakan chatbot berbasis AI sebagai sarana mencari dukungan emosional.
Kecenderungan tersebut memicu kekhawatiran terkait aspek keamanan penggunaan AI. Terlebih lagi, teknologi digital ini kian sering dijadikan panduan utama oleh generasi muda yang tengah berhadapan dengan stres, kecemasan, maupun pergulatan batin.
Tim peneliti melibatkan responden berumur 12 hingga 21 tahun untuk mengonfirmasi pemanfaatan layanan AI seperti ChatGPT, Google Gemini, atau Character.AI. Penyelidikan tersebut menggabungkan chatbot khusus terapi dengan sistem percakapan umum maupun mesin pencari informasi tanpa pemisahan kategori.
Hasil survei memperlihatkan sekitar 20 persen partisipan mengaku pernah meminta dukungan atau petunjuk dari sistem kecerdasan buatan. Para ahli menilai data ini menjadi indikasi bahwa sistem dukungan konvensional yang kredibel saat ini belum sepenuhnya memadai bagi kebutuhan anak muda.
Ryan McBain selaku peneliti kebijakan senior di RAND Corporation sekaligus penulis utama studi tersebut menilai temuan ini cukup memprihatinkan.
"Ini adalah angka yang menyedihkan, karena idealnya kita berharap anak-anak muda memiliki hubungan yang suportif sehingga mereka merasa nyaman dan percaya diri untuk meminta bantuan kepada orang-orang di sekitar mereka," ujar Ryan.
Sebagian besar responden yang terlibat dalam pengumpulan data mengklaim mendapatkan pengalaman positif selama mengoperasikan AI. Mayoritas pengguna menganggap panduan yang diproduksi oleh chatbot cukup meringankan beban mereka.
Kendati demikian, tim riset menegaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan tidak dapat menggeser posisi mendasar dari tenaga kesehatan mental profesional. Sistem komputasi ini masih berisiko memproduksi informasi yang kurang akurat, keliru memahami konteks, atau menyederhanakan problematika psikologis yang rumit.
Ryan juga memberikan perhatian khusus pada kekosongan regulasi yang mengikat pengoperasian chatbot AI pada saat ini.
"Saat ini chatbot AI pada dasarnya mengatur dirinya sendiri. Hampir tidak ada standar keamanan maupun kualitas yang diwajibkan oleh hukum federal," kata Ryan.
Secara praktis, kecerdasan buatan memang menawarkan ruang yang sangat mudah diakses oleh remaja untuk mengutarakan perasaan. Namun, para spesialis tetap memandang bahwa pendampingan dari keluarga, sahabat, konselor, hingga psikolog merupakan opsi yang jauh lebih aman.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow