Kasus Kanker Usus Buntu di Kalangan Dewasa Muda Meningkat
Kasus kanker usus buntu dilaporkan mengalami peningkatan signifikan di kalangan dewasa muda. Kelompok generasi X dan milenial kini menghadapi risiko tiga hingga empat kali lebih tinggi terserang penyakit ini jika dibandingkan dengan generasi yang lahir pada tahun 1940-an.
Dikutip dari Detik Health, kanker usus buntu terjadi saat sel-sel di area tersebut bermutasi dan tumbuh tidak terkendali. Usus buntu sendiri merupakan kantung kecil di sisi kanan bawah perut yang berada dekat persimpangan usus besar dan kecil.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 10 Juni 2025 di Annals of Internal Medicine mengonfirmasi lonjakan ini. Hasil studi menunjukkan bahwa generasi X dan milenial mengembangkan kanker usus buntu pada tingkat yang jauh lebih tinggi daripada generasi terdahulu.
Penyakit ini sebenarnya tergolong sangat langka karena hanya menyerang satu hingga dua orang per satu juta penduduk setiap tahun. Namun, kenaikan kasus ini sejalan dengan tren global mengenai meningkatnya penyakit kanker pada usia muda, termasuk kanker kolorektal.
"Dibandingkan dengan mereka yang lahir pada 1940-an, generasi X dan milenial yang lebih tua memiliki kemungkinan sekitar tiga kali lebih besar untuk didiagnosis mengidap kanker usus buntu secara keseluruhan. Itu cukup mengejutkan bagi kami," kata penulis utama studi yang juga merupakan asisten profesor hematologi dan onkologi di Vanderbilt University Medical Center dan Vanderbilt-Ingram Cancer Center.
Kepala onkologi bedah di Fakultas Kedokteran Yale, Kiran Turaga, MD, MPH, menyatakan bahwa temuan ini sesuai dengan realitas di klinik. Ia bahkan telah menemukan pasien dari generasi Z yang menderita penyakit serupa.
"Minggu lalu di klinik, saya menangani pasien berusia 18 tahun dan 20 tahun yang menderita kanker usus buntu. Ini adalah fenomena nyata yang kami perhatikan," kata Turaga.
Analisis Risiko Lintas Generasi
Tim peneliti menganalisis data registri Surveillance, Epidemiology, and End Results (SEER) milik National Cancer Institute. Mereka mendeteksi 4.858 kasus kanker usus buntu pada penduduk berusia 20 tahun ke atas sepanjang periode 1975 hingga 2019.
Data menunjukkan tren kenaikan terus terjadi pada setiap generasi yang lahir setelah tahun 1945. Kelompok yang lahir antara tahun 1975 dan 1985 memiliki risiko tiga hingga empat kali lipat lebih tinggi dibanding generasi 1940-an.
"Ini bukan sekadar fenomena peningkatan deteksi. Hanya dengan melihat besarnya angka-angka ini, dikombinasikan dengan apa yang kami lihat di klinik dan pemahaman kami tentang para pasien, saya yakin bahwa ini merupakan peningkatan nyata insiden kanker usus buntu, terutama pada orang dewasa muda," kata Turaga.
Gejala dan Metode Diagnosis
Berdasarkan data National Cancer Institute, beberapa gejala umum kanker usus buntu yang harus diwaspadai meliputi nyeri perut, kembung, pembesaran perut, munculnya benjolan, mual, muntah, serta cepat kenyang.
"Meski kejadiannya meningkat, kanker usus buntu masih tergolong jarang. Jadi, tidak semua gejala perut berarti Anda menderita kanker usus buntu. Namun demikian, perhatikan riwayat keluarga Anda, karena adanya anggota keluarga yang pernah menderita kanker dapat meningkatkan risiko Anda terkena kanker," kata Yun Song, MD, seorang asisten profesor onkologi bedah di MD Anderson Cancer Center.
Hingga saat ini, belum ada metode skrining standar yang spesifik untuk mendeteksi penyakit ini. Prosedur kolonoskopi yang menjadi standar emas kanker usus besar bahkan masih berpotensi melewatkan kanker usus buntu.
"Saya menyarankan untuk memperhatikan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan atau gejala perut yang mengganggu, meskipun terkadang samar, seperti nyeri, rasa tidak nyaman, atau kembung yang tidak kunjung hilang. Jika mengalami kondisi tersebut, segera cari pertolongan medis," kata Song.
Faktor Pemicu Kanker Usia Muda
Risiko kanker pada generasi muda secara umum memang memperlihatkan tren peningkatan. Studi tahun 2024 di Lancet Public Health menyebutkan bahwa generasi milenial memiliki risiko lebih tinggi terhadap 17 jenis kanker berbeda.
Meskipun demikian, penyebab pasti dari fenomena lonjakan kasus di usia muda ini masih belum diketahui secara pasti oleh para peneliti.
"Hal ini kemungkinan tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Ada banyak faktor yang berperan, termasuk gaya hidup seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, pola makan, serta berbagai faktor lingkungan," kata Andreana N Holowatyj, PhD, MS, asisten profesor dari Vanderbilt University Medical Center dan Vanderbilt Ingram Cancer Center yang memimpin riset tersebut.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow