Kelelahan Terus-menerus Picu Kewaspadaan Terhadap Gejala Diabetes

Smallest Font
Largest Font

Rasa lelah atau lemas yang terjadi secara terus-menerus atau dikenal sebagai fatigue dapat menjadi indikasi adanya masalah kesehatan tertentu. Kondisi ini berbeda dengan kelelahan biasa yang umumnya bisa hilang setelah tubuh dipakai beristirahat. Dilansir dari Detik Health, salah satu penyakit yang kerap memicu keletihan konstan ini adalah diabetes, baik tipe 1 maupun tipe 2.

Terdapat sejumlah mekanisme biologis dan gejala penyerta yang melatarbelakangi munculnya rasa lelah tersebut. Beberapa tanda klinis diabetes dapat berkontribusi langsung maupun tidak langsung terhadap tingkat energi tubuh. Gejala tersebut meliputi rasa haus berlebihan atau polidipsia, yang muncul akibat upaya tubuh menyeimbangkan kadar gula darah yang tinggi.

Kondisi haus ini juga berkaitan erat dengan tingginya frekuensi buang air kecil atau poliuria. Selain itu, penderita sering mengalami penurunan berat badan tanpa pemicu yang jelas.

Hal ini terjadi saat glukosa gagal memasuki sel, sehingga tubuh mulai membakar cadangan lemak dan otot untuk memperoleh energi. Gejala lainnya adalah pandangan kabur akibat penarikan cairan dari jaringan tubuh, termasuk lensa mata. Kurangnya pasokan insulin juga membuat tubuh kekurangan daya hingga memicu rasa lapar berlebih atau polifagia. Berbagai keluhan fisik ini memicu rasa tidak nyaman berkepanjangan yang memengaruhi kesehatan jasmani serta mental.

Penyebab Kelelahan dari Sisi Medis dan Mental

Secara fisiologis, tubuh manusia mengolah makanan menjadi glukosa yang diserap sel menggunakan insulin untuk menghasilkan energi. Pada penyandang diabetes, efektivitas fungsi insulin terganggu atau jumlahnya tidak mencukupi.

Akibatnya, glukosa menumpuk di dalam aliran darah dan tidak sampai ke sel-sel tubuh, sehingga memicu rasa letih. Faktor kesehatan mental dan emosional seperti depresi juga ikut memperparah keletihan melalui hilangnya motivasi serta perubahan pola makan.

Pentingnya Melakukan Skrining Gula Darah

Pemeriksaan medis secara dini sangat dianjurkan untuk mendeteksi adanya gangguan pada kadar gula dalam darah. Langkah ini membantu seseorang dalam mengambil keputusan untuk menerapkan pola hidup yang lebih sehat.

"Kalau masalah gula harus cek lab, tentu saja. Tidak hanya gula sewaktu, jadi harus diagnosis untuk diabetes mellitus itu paling tidak ada gula darah puasa, atau namanya HbA1c. Itu adalah rata-rata kadar gula darah 2-3 bulan terakhir, sehingga kita jadi tahu, 'Oh saya ini aman nggak sih?' Atau saya masuk ke prediabetes, atau saya sudah diabetes," kata dokter spesialis penyakit dalam dr Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD dalam acara detikcom Leaders Forum beberapa waktu lalu.

Melalui hasil pemeriksaan laboratorium tersebut, kesadaran individu untuk menjaga kesehatan biasanya akan meningkat. Pasien dapat menjadi lebih bijak dalam memilah konsumsi makanan guna menekan risiko lonjakan gula darah.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Putra Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow