Polisi Pastikan Empat Orang Tewas Akibat Keracunan Karbon Monoksida

Smallest Font
Largest Font

Pihak kepolisian memastikan bahwa seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada beserta tiga anggota keluarganya meninggal dunia akibat menghirup gas karbon monoksida saat berkemah di Taman Wisata Alam Posong, Temanggung, Jawa Tengah.

Kematian satu keluarga tersebut dipicu oleh penggunaan tungku berbahan arang atau briket di dalam tenda yang berada dalam kondisi tertutup rapat, seperti dilansir dari Detik Health.

Penjelasan mengenai sifat fatal gas tersebut dipaparkan oleh Spesialis Paru dari RS Paru Persahabatan, Prof Agus Dwi Susanto, SpP, yang mengategorikan karbon monoksida sebagai gas asfiksian yang menyabotase pasokan oksigen dalam darah.

Gas ini tidak memiliki warna maupun bau, serta tidak memicu refleks batuk sehingga paparannya sering kali tidak disadari oleh para korban yang menghirupnya.

"Ketika gas CO ini terhirup oleh seseorang, masuk ke saluran napas, dia akan masuk ke pembuluh darah yang ada di paru yang disebut namanya alveoli. Di situ CO akan masuk ke dalam darah, ketika dia ada di dalam darah, dia akan bersaing dengan oksigen yang kita hirup. Kekuatan CO mengikat HB (hemoglobin) itu 300 kali lebih kuat daripada oksigen mengikat HB," jelas Prof Agus Dwi Susanto, Spesialis Paru RS Paru Persahabatan.

Kadar racun atau HbCO di dalam darah dapat merusak fungsi organ tubuh secara bertahap melalui lima fase keparahan, mulai dari gejala pusing ringan pada kadar 5 hingga 10 persen, hingga berujung fatal.

Peningkatan kadar gas hingga di atas 60 persen akan menghentikan seluruh fungsi organ tubuh akibat nihilnya pasokan oksigen, yang seketika memicu henti napas dan henti jantung.

Bahaya laten gas ini menjadi jauh lebih tinggi apabila korban terpapar dalam kondisi sedang tertidur, karena rasa kantuk dari fase awal akan langsung menyatu dengan proses pingsan hingga koma.

"Biasanya orang nggak menyadari itu kalau saat dia keracunan CO, karena tadi nggak ada rasanya, nggak ada baunya, nggak berwarna, nggak tahu tuh. Kalau otaknya kekurangan oksigen juga kadang-kadang mulai agak-agak ngantuk gitu kan. Kalau udah 40-50 persen tuh udah pingsan, koma.

Tertidur seterusnya, terus abis itu meninggal. Memang nggak sadar," tutur Prof Agus Dwi Susanto, Spesialis Paru RS Paru Persahabatan.

Pihak medis menyatakan bahwa peningkatan frekuensi napas saat tubuh mendeteksi kekurangan oksigen justru menjadi ironi yang membuat korban menghirup lebih banyak gas beracun tersebut.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Putra Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow