Bahaya Tren Lari Marathon Tanpa Pemahaman Batas Fisik

Smallest Font
Largest Font

Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fans Manchester United yang juga eks pesepakbola semi-profesional. Banyak menulis soal olahraga dari sudut pandang hidup sehat.

Tren lari marathon ibarat dua sisi mata uang. Satu sisi menunjukkan kesadaran untuk hidup sehat dan aktif secara fisik, namun di saat yang sama juga punya risiko fatal ketika seseorang tidak punya cukup pemahaman tentang batas-batas kemampuan fisik.

Dalam satu kasus yang viral di media sosial belakangan ini, seorang pelari kolaps hingga harus menjalani cuci darah karena fungsi ginjalnya terganggu. Beberapa pakar mengaitkannya dengan Rhabdomyolysis, yakni kerusakan sel-sel otot yang pada akhirnya membebani ginjal.

Dokter spesialis penyakit dalam dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH mengatakan, risiko Rhabdomyolysis saat menjalankan olahraga ekstrem sebenarnya bisa dihindari. Salah satu sinyal yang wajib dikenali, paling umum adalah munculnya rasa lelah akut dan ini harusnya menjadi alarm yang harus diperhatikan.

"Kelelahan (akut, red). Dipaksakan kok itu, udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dr Tunggul saat dihubungi detikcom, Sabtu (20/6/2026).

Apa Itu Rhabdomyolisis?

Dikutip dari Cleveland Clinic, rhabdomyolisis adalah suatu kondisi medis serius yang terjadi akibat kerusakan atau kematian jaringan otot rangka secara cepat. Kerusakan ini menyebabkan zat-zat di dalam sel otot (seperti protein mioglobin dan elektrolit) bocor ke aliran darah, yang berpotensi memicu kerusakan organ terutama ginjal.

Kondisi ini umumnya terjadi karena seseorang melakukan aktivitas secara berlebihan, trauma, atau pengobatan tertentu. Dengan kata lain, aktivitas fisik berat seperti marathon, juga berisiko mengalami kondisi ini.

Apa Tanda-tandanya?

Gejala dari rhabdomyolisis cukup bervariasi, dari ringan hingga berat. Gejala biasanya muncul satu hingga tiga hari setelah cedera otot, meskipun beberapa orang mungkin bahkan tidak merasakan nyeri otot.

Sebagian orang juga mengalami:

- Dehidrasi

- Penurunan frekuensi buang air kecil.

- Mual

- Penurunan kesadaran

Apakah Bisa Sembuh?

Kabar baiknya, rhabdomyolisis menurut dr Tunggul memiliki beberapa tingkatan dan ini merupakan kondisi Acute Kidney Injury (AKI) atau gangguan ginjal akut yang bisa disembuhkan.

"Misalnya AKI grade 1 dan 2, itu pasti reversible (bisa pulih, red) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," katanya.

"Makin cepat dia diambil tindakan sesuai dengan indikasi, maka tentu dia akan reversible," tutupnya.

Kerusakan sel-sel otot akibat aktivitas fisik yang ekstrem juga bisa dialami oleh pelari marathon ketika memaksakan tubuh melebihi batas-batas kemampuannya. Dokter mengingatkan risiko Rhabdomyolisis, yang dampaknya bikin ginjal bisa kolaps.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Putri Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow