Pemain Piala Dunia 2026 Sering Semburkan Air Minum, Ini Alasan Medisnya

Smallest Font
Largest Font

Banyak momen menarik perhatian penonton pada ajang Piala Dunia 2026. Salah satunya adalah kebiasaan sejumlah pemain yang menyemburkan kembali air minum mereka ke lapangan daripada menelannya.

Aksi memuntahkan cairan di tengah cuaca panas dan permainan berintensitas tinggi tersebut kerap memicu rasa penasaran. Penjelasan mengenai fenomena ini dipaparkan oleh dokter spesialis olahraga, dr Andhika Raspati, SpKO.

Dilansir dari Detik Health, dr Andhika Raspati, SpKO menjelaskan bahwa kebiasaan berkumur-kumur lalu membuang kembali cairannya tersebut dikenal dengan istilah carbohydrate mouth rinse.

Meski demikian, tindakan para pesepak bola tersebut belum tentu selalu menggunakan larutan karbohidrat. Menurutnya, hal itu bisa saja berupa air mineral biasa untuk tujuan lain yang bersifat pribadi bagi masing-masing atlet.

"Penelitiannya mengatakan memang, dengan melakukan kumur-kumur dengan menggunakan cairan yang mengandung karbohidrat atau gula, memang itu bisa membantu (meningkatkan performa)," kata dr Dhika saat dihubungi detikcom, Rabu (24/6/2026).

"Meskipun nggak segitunya tinggi banget efeknya atau signifikan banget manfaatnya, tapi dia bisa dikatakan membantu meningkatkan performa," sambungnya.

Secara teknis, carbohydrate mouth rinse dilakukan dengan berkumur menggunakan larutan karbohidrat, seperti minuman olahraga, selama 5 hingga 10 detik. Cairan tersebut kemudian diludahkan kembali tanpa ditelan.

Metode ini bertujuan meningkatkan performa fisik serta mengurangi rasa lelah. Keuntungannya, tubuh tidak mendapatkan tambahan asupan kalori dan risiko perut kembung dapat dihindari saat bertanding.

"Di rongga mulut kita ada yang namanya reseptor atau struktur sel yang bisa detect adanya karbohidrat. Begitu reseptor ini kontak dengan gula, meskipun gulanya nggak ditelan, dia akan mengirimkan sinyal ke otak," katanya.

"Nanti otak akan merespons dengan meningkatkan koordinasi gerak, meningkatkan semangat, meningkatkan motivasi untuk merekrut atau mengaktivasi otot yang memang diperlukan," sambungnya.

Penerapan teknik ini biasanya lebih efektif bagi individu yang melakukan aktivitas olahraga dalam durasi yang tidak terlalu panjang.

"Dengan olahraga yang nggak terlalu panjang, misalnya cuman 30 sampai 60 menit lah, itu masih aman karena cadangan gulanya nggak terkuras banget. Istilah kata dipancing doang ok lah," katanya.

Sebaliknya, bagi atlet yang bertanding dalam durasi lama, metode menstimulasi otak ini tidak dapat diandalkan. Tubuh tetap membutuhkan asupan nyata untuk menggantikan cadangan energi yang habis.

"Olahraga yang sifatnya di atas 90 menit lah, dia kan emang butuh diganti gulanya, bukan cuma dibohongin doang, bukan cuman dipancing doang," tutur dr Dhika.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Putra Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow