Pakar IPB Ingatkan Bahaya Cetakan Kue Putu dari Pipa Paralon

Smallest Font
Largest Font

Penggunaan pipa polyvinyl chloride (PVC) atau paralon untuk mencetak kue putu masih sering dijumpai di masyarakat. Padahal, dilansir dari Detik Health, kebiasaan ini menyimpan risiko kesehatan yang serius bagi konsumen.

Pakar dari Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Eko Hari Purnomo, menjelaskan bahwa material plastik tersebut berpotensi melepaskan komponen beracun ke dalam makanan.

Menurut Prof Eko, pipa paralon awalnya dirancang untuk mengalirkan air atau bahan dalam kondisi dingin. Komponen unplasticized PVC pada pipa tersebut hanya aman digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius dan tidak dibuat untuk menahan panas tinggi.

Di sisi lain, pembuatan kue putu memerlukan proses pengukusan dengan uap air yang mencapai suhu 100 derajat celcius. Proses ini bertujuan agar terjadi gelatinisasi pada pati beras sebagai bahan utama pada suhu sekitar 80 derajat celcius.

"Suhu ini dapat mengakibatkan migrasi/perpindahan komponen plastik dari pipa paralon ke dalam kue putu. Pipa paralon umumnya dibuat dari plastik PVC terutama jenis unplasticized PVC yang hanya bisa digunakan pada suhu di bawah 50 derajat celcius," ujar Prof Eko ketika diminta tanggapannya oleh tim IPB today, dikutip dari laman resmi IPB, Jumat (26/6/2026).

Paparan suhu tinggi tersebut memicu perpindahan zat tambahan seperti stabiliser yang mengandung Pb atau timbal. Zat ini dapat memicu gangguan pada fungsi ginjal jika masuk ke dalam tubuh.

Selain timbal, suhu panas juga berisiko memicu migrasi monomer pembentuk PVC. Senyawa kimia ini memiliki sifat karsinogenik yang dapat menjadi pemicu kanker bagi yang mengonsumsinya.

Sebagai solusi aman, Prof Eko menyarankan penggunaan alat cetak dan kukus tradisional dari bambu. Selain ramah lingkungan dan menjaga nilai budaya, bambu jauh lebih aman asalkan dicuci dengan bersih.

"Kalaupun menggunakan cetakan plastik, harus dipilih jenis yang aman untuk pangan pada suhu tinggi," kata Prof Eko.

Lebih lanjut, edukasi mengenai keamanan pangan ini dinilai memerlukan keterlibatan aktif dari berbagai pihak demi melindungi masyarakat luas.

"Masalah keamanan pangan adalah menjadi tanggung jawab dari pemerintah, produsen, dan konsumen. Terkait keamanan pangan, maka otoritas keamanan pangan (BPOM), pemerintah daerah, dan perguruan tinggi dapat mengambil peran aktif untuk mengedukasi masyarakat," tutur Prof Eko.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Putri Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow