Mengenal Rhabdomyolysis, Risiko Kerusakan Ginjal Akibat Lari Marathon

Smallest Font
Largest Font

Olahraga lari kini semakin diminati masyarakat, mulai dari ajang fun run 5K, maraton, hingga ultra-marathon lintas alam. Olahraga ini memiliki manfaat besar untuk kesehatan jantung dan peningkatan stamina tubuh. Namun, di balik euforia mencapai garis finish, terdapat kondisi medis serius yang mengintai jika seseorang terlalu memaksakan diri.

Kondisi tersebut dikenal dengan istilah Rhabdomyolysis. Dikutip dari Detik Health, rhabdomyolysis merupakan kondisi medis serius yang dipicu oleh kerusakan atau kematian jaringan otot rangka secara cepat. Kerusakan ini mengakibatkan zat di dalam sel otot, seperti protein mioglobin dan elektrolit, bocor ke aliran darah.

Kebocoran zat tersebut berpotensi memicu kerusakan organ tubuh, terutama organ ginjal. Kondisi ini umumnya terjadi akibat aktivitas fisik berlebihan, trauma, atau efek pengobatan tertentu, termasuk olahraga berat seperti marathon.

Mengenal Gejala dan Tanda

Gejala rhabdomyolysis bervariasi dari tingkat ringan hingga berat, dan biasanya muncul satu sampai tiga hari setelah cedera otot terjadi. Beberapa penderita bahkan tidak merasakan nyeri otot sama sekali. Gejala lain yang kerap dialami meliputi dehidrasi, penurunan frekuensi buang air kecil, mual, hingga penurunan kesadaran. Dokter spesialis penyakit dalam, dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menjelaskan adanya tanda alami lain berupa kelelahan akut yang dipaksakan.

"Dia kelelahan (akut, red). Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dr Tunggul saat dihubungi detikcom, Sabtu (20/6/2026). Kondisi ini dapat berkembang menjadi Acute Kidney Injury (AKI) atau gangguan ginjal akut mendadak jika terlambat ditangani. Tanda penurunan fungsi organ ini dapat diidentifikasi melalui perubahan warna urine.

"Acute Kidney Injury artinya mendadak. Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak (tercampur) kemudian kegelapan warna kencingnya," katanya. "Karena memang mioglobin itu, pecahan protein dari otot. Nah kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu," sambungnya.

Pemicu Utama dan Kelompok Rentan

Persiapan olahraga yang kurang matang dan ketiadaan pemanasan yang layak menjadi salah satu pemicu utama kondisi ini. Proses pemanasan idealnya dilakukan secara bertahap sebelum memulai aktivitas intensitas tinggi.

"Salah satu penyebabnya sebenarnya adalah kalau pemanasannya itu tidak gradual ya," kata dr Tunggul. Kelompok pemula menjadi pihak yang paling rentan mengalami rhabdomyolysis karena faktor adaptasi fisik. Namun, risiko ini juga tetap mengintai para atlet elit atau pelari berpengalaman yang abai terhadap persiapan tubuh.

"Atau mungkin dia merasa bahwa sudah biasa, dia langsung tancap begitu. Jadi bisa dihindari dengan pemanasan yang gradual sebenarnya pada awalnya. Tapi memang itu (rhabdo) terutama pada pemula," katanya.

"Kemarin itu ada itu, sudah pelari marathon yang sudah berpengalaman sampai 42K, tetapi tetap saja bisa terjadi. Tetapi memang dasarnya ya itu, sangat eksesif, sangat berat, mendadak," katanya.

Selain lari, olahraga dengan intensitas tinggi lainnya seperti hyrox juga memiliki risiko serupa. Penggunaan otot secara masif membutuhkan kesadaran penuh untuk mendengarkan sinyal-sinyal dari dalam tubuh. "Menurut saya, itu (hyrox) termasuk risk juga itu. Kan itu berarti penggunaan otot yang masif juga," katanya.

Peluang Kesembuhan Pasien

Meskipun berdampak serius pada organ ginjal, rhabdomyolysis bersifat reversible atau dapat pulih kembali jika mendapatkan penanganan medis secara cepat tepat. Penanganan dini sangat menentukan metode penyembuhan pasien.

"Misalnya AKI grade 1 and 2, itu pasti reversible (bisa disembuhkan, red) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," kata dr Tunggul.

"Makin cepat dia diambil tindakan sesuai dengan indikasi, maka tentu dia akan reversible," sambungnya.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Putra Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow