Polda Jabar Tangkap Pelaku Penyekapan Perempuan di Bandung

Smallest Font
Largest Font

Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Jawa Barat mengungkap kasus penyekapan dan penganiayaan berat oleh tersangka Taufik Hidayat terhadap seorang perempuan berinisial YTR (29) di empat lokasi berbeda sejak tahun 2024 hingga menyebabkan korban mengalami kebutaan total.

Aksi kekerasan ini mengakibatkan korban kehilangan penglihatan pada kedua matanya serta mengalami cacat fisik permanen, seperti dilansir dari Detik Health. Tersangka ditangkap setelah melakukan rangkaian penyiksaan berbulan-bulan di wilayah Cicaheum, Cilengkrang, hingga Cileunyi.

Pihak kepolisian membeberkan bahwa pelaku dan korban awalnya berkenalan melalui aplikasi kencan sebelum tinggal bersama di sebuah rumah kos. Kekerasan dimulai di Cicaheum berupa pemukulan dan sundutan rokok, lalu meningkat di kos berikutnya di mana mata kiri korban dipukul besi hingga buta, diikuti pemukulan mata kanan menggunakan helm di Cilengkrang.

Taufik dihadirkan dalam konferensi pers di Mapolda Jabar, Kota Bandung, pada Jumat (26/6/2026) siang. Dalam kesempatan tersebut, tersangka menyampaikan pernyataan singkat terkait perbuatannya.

"Saya minta maaf," kata Taufik.

Kasus kekerasan ekstrem ini turut mendapat perhatian dari ahli kesehatan jiwa. Psikiater menilai tindakan penyiksaan jangka panjang tersebut menunjukkan hilangnya empati secara total dari pelaku.

"Berarti telah terjadi perilaku kekerasan yang ekstrem tanpa rasa empati dan kontrol yang sangat dominan terhadap korban serta pelanggaran berat terhadap hak asasi korban tanpa memikirkan konsekuensinya," ujar dr Lahargo Kembaren, SpKJ.

Ia menambahkan bahwa karakteristik seperti itu dapat ditemukan pada orang dengan gangguan kepribadian antisosial yang memiliki perilaku psikopatik. Menurutnya, figur dengan kecenderungan kekerasan ekstrem kerap mengecoh korban dengan tampil sangat baik di awal hubungan.

"Yang menarik, pada awal hubungan mereka sering kali tidak terlihat menyeramkan," kata dr Lahargo Kembaren, SpKJ.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa pelaku sering digambarkan sebagai sosok perhatian, romantis, dan protektif untuk membangun kedekatan emosional sebelum akhirnya berubah menjadi posesif dan mengisolasi korban.

"Karena itu, salah satu tanda peringatan yang sering muncul bukanlah kekerasan fisik sejak awal, melainkan kebutuhan mengontrol yang berlebihan, manipulasi emosional, dan hilangnya kebebasan korban secara bertahap," jelas dr Lahargo Kembaren, SpKJ.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: health.detik.com without altering the facts of the original article.
Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Putra Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow