Edukasi Lingkungan Jaga Setu Ciledug dari Kerusakan

Smallest Font
Largest Font

Sekelompok anak-anak di Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, mendapatkan pelajaran penting tentang pelestarian lingkungan pada Rabu pagi, 8 April 2026. Di tepian Setu Ciledug yang airnya tak sebening dulu, mereka diajak memahami ancaman kerusakan ekosistem dan cara menyelamatkannya. Kegiatan edukasi ini, sebagaimana dilansir dari Beritabanten, berlangsung di Taman Ganespa.

Pembelajaran lingkungan hidup ini tidak hanya disampaikan melalui buku. Anak-anak diajak berinteraksi langsung dengan kondisi Setu Ciledug, menyentuh air, mengamati sampah, dan mendengarkan cerita tentang perubahan ekosistem. Amay, seorang fasilitator dari pecinta alam Mapala SMAN 6 Kota Tangsel, memulai diskusi dengan pertanyaan, “Kalau airnya kotor, ikannya ke mana?”

Pertanyaan sederhana tersebut membuka pemahaman anak-anak tentang krisis lingkungan yang terjadi di sekitar mereka. Setu Ciledug, yang dahulu menjadi penyangga lingkungan dan sumber kehidupan warga, kini menghadapi tekanan serius. Alih fungsi lahan, limbah rumah tangga, dan sampah plastik menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungannya.

Program edukasi di Taman Ganespa mengedepankan pendekatan partisipatif. Anak-anak diajak mengumpulkan sampah di sekitar setu, memilah, dan mendiskusikan sumber asalnya. Sebagian besar sampah, ternyata, berasal dari kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele.

Momen penting terjadi ketika seorang anak laki-laki menemukan botol plastik dan bertanya, “Ini dari rumah ya?” Fasilitator hanya tersenyum dan menjawab, “Bisa jadi.” Dari interaksi ini, kesadaran akan dampak tindakan sehari-hari mulai tumbuh pada diri anak-anak.

Di area lain Taman Ganespa, para relawan secara aktif menanam bibit tanaman air di tepian setu. Penanaman ini bukan sekadar penghijauan, melainkan bagian dari upaya restorasi kualitas air. Akar tanaman diharapkan dapat berfungsi menyaring zat pencemar, sekaligus menciptakan kembali habitat bagi organisme air yang mungkin telah menghilang.

Kegiatan pelestarian ini dilaksanakan secara rutin dan konsisten, terkadang melibatkan siswa sekolah, terkadang komunitas warga. Semua peserta memiliki tujuan yang sama: memahami dan menjaga lingkungan. Seorang guru pendamping mengungkapkan bahwa pengalaman langsung ini jauh lebih berharga daripada pelajaran di kelas.

“Di sini mereka lihat langsung. Mereka jadi tahu dampaknya. Itu yang penting,” ujar guru tersebut. Di tengah pesatnya pembangunan perkotaan, setu seringkali terpinggirkan dan dianggap sebagai sisa ruang, padahal memiliki peran krusial sebagai penampung air, pengendali banjir, dan penyeimbang ekosistem.

Meski terlihat kecil, upaya yang dilakukan di Taman Ganespa memiliki dampak besar dalam menumbuhkan kesadaran. Menjaga lingkungan bukanlah tugas besar yang ditunda, melainkan kebiasaan kecil yang dimulai setiap hari. Menjelang siang, anak-anak pulang membawa kantong sampah dan pemahaman baru tentang pentingnya menjaga Setu Ciledug.

Disclaimer

This article was automatically rewritten by AI based on source: beritabanten.com without altering the facts of the original article.
Editors Team
Daisy Floren
Daisy Floren
Putri Author

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow